Pages

 

Senin, 28 Mei 2012

Komunikasi

0 komentar

Komunikasi merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan  orang lain dilingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun  non verbal ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh suku bangsa).

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin  Communicare atau Communis yang berarti  sama  atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti  kita berusaha agar  apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.

Beberapa definisi komunikasi munurut para ahli:
1.      Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh  pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi  (Astrid).
2.      Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3.      Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
4.      Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
5.      Komunikasi  adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).

Hewitt (1981), menjabarkan tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:
1.     Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2.     Mempengaruhi perilaku seseorang
3.     Mengungkapkan perasaan
4.     Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5.     Berhubungan dengan orang lain
6.     Menyelesaian sebuah masalah
7.     Mencapai sebuah tujuan
8.     Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9.     Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain

Proses dari komunikasi tersebut ia lah pesan, komunikator, dan komunikan. Semua fungsi manajer melibatkan  proses komunikasi. Berikut proses dalam komunikasi:   

1.      Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide  untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan   dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan  atau diekspresikan  oleh pengirim pesan.  Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.

      Materi pesan dapat berupa :
a.       Informasi
b.      Ajakan
c.       Rencana kerja
d.      Pertanyaan dan sebagainya


2.      Simbol/ isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat       dipahami oleh  orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan  penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.

3.      Media/penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar,  papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan  yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dsb.

4.      Mengartikan kode/isyarat
Setelah  pesan diterima  melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka  si penerima pesan  harus dapat mengartikan  simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti /dipahaminya.

5.      Penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan  dari sipengirim  meskipun dalam bentuk code/isyarat  tanpa mengurangi arti pesan  yang dimaksud oleh pengirim

6.      Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi  kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting  bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung  yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak
Balikan yang diberikan oleh orang lain  didapat dari pengamatan pemberi balikan  terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan  menggambarkan perilaku penerima pesan  sebagai reaksi  dari pesan  yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan  kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.

7.      Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi  akan tetapi mempunyai pengaruh dalam  proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah  hal yang  merintangi atau menghambat  komunikasi  sehingga penerima salah menafsirkan pesan  yang diterimanya.


Fasilitas dalam Internet yang dapat Digunakan untuk Komunikasi
Internet atau interconnection-networking ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakaninternetworking.Secara garis besar internet memiliki beberapa fasilitas. Dengan semakin berkembang tenkologi dan fasilitas dalam internat fasilitas yang digunakan dalam internet pun semakin beragam. fasilitas tersebut banyak digunakan oleh pengguna, guna memenuhi kepentingannya. Di antara fasililitas tersebut adalah sebagai berikut :
·         World Wide Web (WWW)
World Wide Web (WWW) ini anda dapat mengambil, memformat, dan menampilkan informasi (termasuk teks, audio, grafik, dan video) dengan menggunakan hypertext links.
·         Electronic Mail (E-Mail)
Fasilitas ini digunakan untuk berkirim surat/berita dengan orang lain, tanpa mengenal batas, waktu, ruang bahkan birokrasi. E-Mail merupakan salah satu contoh wahana pengakses informasi superhighway. E-Mail merupakan wahana yang paling tua dan paling populer sebagai pengakses informasi. E-Mail memungkinkan seorang individu mengirimkan pesannya langsung ke individu lain dalam waktu yang cepat. Tetapi, tidak tertutup kemungkinan E-mail digunakan untuk berkomunikasi pada orang banyak, misalnya dengan
mengirimkan pesan pada sebuah kelompok alamat dan kelompok alamat ini mengirimkannya pada nomor-nomor E-Mail lain yang termasuk dalam mailing listnya.
·         Mailing List
Fasilitas ini digunakan untuk berdiskusi secara elektronik dengan menggunakan e-mail.
Mailing list ini umumnya digunakan untuk bertukar informasi, pendapat, dan lain sebagainya dalam jarak jauh. Mailing list adalah sistem yang mengirim pesan-pesan untuk kelompok orang, bisa berupa berita, artikel, catatan, dan sebagainya. Seiring dengan terbentuknya berbagai kelompok, maka terdapat ribuan mailing list di seluruh dunia. Setiap mailing list memiliki seorang individu yang menjadi penanggung jawab. Bila seseorang ingin berlangganan sebuah mailing list, dia cukup menulis surat pada alamat mailing list tersebut.
Kemudian “moderator” mailing list tersebut akan memutuskan apakah permohonannya akan diterima atau tidak. Bagi mailing list yang tidak memiliki “moderator”, kondisinya akan lebih terbuka. Anggota mailing list tersebut mengirim dan menerima pesan dari semua individu.
·         Bulletin Board System
Lebih populer dengan sebutan BBS. BBS adalah tempat menyimpan pesan atau file yang sesuai dengan topik yang sudah ditentukan. Terdapat ribuan BBS di seluruh dunia. Setiap BBS memiliki seorang “administrator”. Untuk memanfaatkan BBS, seorang individu bisa menghubunginya melalui Telnet dan memilih dari sistem menu.
·         Telnet
Fasilitas ini digunakan untuk masuk ke sistem komputer tertentu dan bekerja pada sistem komputer yang lain.
·         Chatting
Fasilitas ini digunakan untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang lain dalam internet. Pada umumnya fasilitas ini sering digunakan untuk bercakapcakap atau ngobrol di internet.


Senin, 21 Mei 2012

Sejarah Perkembangan Film

0 komentar
Pada jaman sekarang peran film merupakan sarana hiburan yang sering digunakan, dengan film kita dapat menceritakan suatu cerita baik itu cerita fiksi atau non fiksi. Dengan semakin majunya teknologi dalam pembuatan film ini menciptakan suatu kreatifitas yang tak terbatas sehingga menghasil kan suatu karya seni yang indah dan dapat dinikmati banyak orang. Sejarah Film pertama kali dipertontonkan untuk khalayak umum dengan membayar berlangsung di Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris, Perancis pada 28 Desember 1895. Peristiwa ini sekaligus menandai lahirnya film dan bioskop di dunia. Karena lahir secara bersamaan inilah, maka saat awal-awal ini berbicara film artinya juga harus membicarakan bioskop. Meskipun usaha untuk membuat “citra bergerak” atau film ini sendiri sudah dimulai jauh sebelum tahun 1895, bahkan sejak tahun 130 masehi, namun dunia internasional mengakui bahwa peristiwa di Grand Cafe inilah yang menandai lahirnya film pertama di dunia.

Pelopornya adalah dua bersaudara Lumiere Louis (1864-1948) dan Auguste (1862-1954). Thomas A. Edison juga menyelenggarakan bioskop di New York pada 23 April 1896. Dan meskipun Max dan Emil Skladanowsky muncul lebih dulu di Berlin pada 1 November 1895, namun pertunjukan Lumiere bersaudara inilah yang diakui kalangan internasional. Kemudian film dan bioskop ini terselenggara pula di Inggris (Februari 1896), Uni Sovyet (Mei 1896), Jepang (1896-1897), Korea (1903) dan di Italia (1905).

Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata.

Film kita tidak hanya dapat dinikmati di televisi, bioskop, namun juga dengan kehadiran VCD dan DVD, film dapat dinikmati pula di rumah dengan kualitas gambar yang baik, tata suara yang ditata rapi, yang diistilahkan dengan home theater. Dengan perkembangan internet, film juga dapat disaksikan lewat jaringan superhighway ini.

Isu yang cukup menarik dibicarakan mengenai industri film adalah persaingannya dengan televisi. Untuk menyaingi televisi, film diproduksi dengan layar lebih lebar, waktu putar lebih lama dan biaya yang lebih besar untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik. Menurut Jack Valenti, kekuatan unik yang dimiliki film, adalah: (1) Sebagai hasil produki sekelompok orang, yang berpengaruh terhadap hasil film; (2) Film mempunyai aliran-aliran yang menggambarkan segmentasi dari audiensnya. Seperti: drama, komedi, horor, fiksi ilmiah, action dan sebagainya. Bagi Amerika Serikat, meski film-film yang diproduksi berlatar belakang budaya sana, namun film-film tersebut merupakan ladang ekspor yang memberikan keuntungan cukup besar.

Film yang baru-baru ini ada adalah film Legend of The Guardian. Ceritanya adalah tentang keyakinan dari burung hantu untuk sebuah kebaikan. Dengan tokoh utama Soren. Soren dan keluarganya hidup di sebuah hutan yang damai. Kludd, Soren, dan Eglantine adalah tiga bersaudara yang tumbuh dengan legenda besar mengenai para Guardian. Guardian adalah para pahlawan yang berhasil mencegah The Pure Ones untuk menguasai dunia.

Dibandingkan seluruh saudara kandungnya, Soren menaruh minat paling besar mengenai kisah para Guardian. Ia menyimpan legenda tersebut di dalam hatinya dan meyakini bahwa para Guardian memang ada di suatu tempat. Sebaliknya, Kludd, menganggap Soren adalah seorang pemimpi yang terlalu banyak berimajinasi.
Suatu hari, Soren dan Kludd mencoba untuk belajar terbang. Namun, mereka justru jatuh ke permukaan dan diculik oleh dua burung hantu ke suatu tempat. Soren menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tempat tersebut. Ia melihat banyak burung hantu dihipnotis dan dijadikan semacam budak untuk mengumpulkan batu sakti. Belakangan, ia mengetahui bahwa ia berada di sarang The Pure Ones! Cerita tersebut nyata! Berarti, kisah mengenai para Guardian pun benar adanya!
Software Buat visual effect atau animasi dengan software 3D. Bisa dengan 3dmax, lightwave, Cinema4D. Selain software diatas ada beberapa software yang memang khusus untuk keperluan animasi & visual effect movie yaitu Vue, Bryce, Poser, dan DAZ Studio.
3. Setelah animasi dan visual effect selesai selanjutnya dilakukan kombinasi atau penggabungan antara visual effect yang biasa disebut compositing. Software yang digunakan bisa dengan Apple Shake, Adobe After Effects, Autodesk Combustion, D2 Software Nuke, Eyeon Digital Fusion, Jahshaka. Namun untuk hasil yang lebih real atau nyata bisa menggunakan platform yang mengkombinasikan solusi software & hardware. Platform tersebut bisa dengan Autodesk Inferno, Autodesk Flame, dan Autodesk Flint.

Saya bisa mengatakan kisah ini dianimasikan dengan sangat sederhana namun tetap mengagumkan! Penggambaran burung hantu, lautan, langit, dan keseluruhan film dibuat sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan. Selain itu, Anda akan mendapatkan suguhan 3D yang memukau, membuat Anda seakan terbang bersama Soren dan kawan-kawannya.

Satu hal yang patut disayangkan adalah jalan cerita yang terlalu pendek. Sang sutradara memutuskan untuk membuat film ini dengan durasi sekitar 90 menit, membuat film ini tampak sangat “padat” dan “to the point”. Keputusan ini bisa dimaklumi karena film ini memang ditujukan untuk keluarga. Konsep yang diangkat pun cukup sederhana: mimpi, harapan, dan keyakinan.
3D IMAX. Kelebihan IMAX dengan 3Dnya adalah : Sound Quality IMAX diatas bioskop normal dan 3D gambarnya termasuk salah satu yang terbaik (Dibanding 3D biasa dan RealD-3D). Kekurangan film yang memakai 3D format : kehilangan detail gambar dikarenakan mata kita terlalu menikmati 3D effectnya. Animatornya yang meng-clean up animasinya. Sebuah process yang membutuhkan observasi sangat lama terhadap berbagai jenis burung dan terutama burung hantu. Terbang setiap burung terlihat tidak procedural, setiap character burung ada expresi yang sangat jelas, dan juga secondary animationnya sangat menakjubkan.

Perkembangan film

Pada abad ke 19 terlihat perkembangan yang pesat dari bentuk visual sebagai budaya populer. Industri banyak memproduksi lentera bergerak/ diorama, buku kumpulan foto-foto, dan ilustrasi fiktif. Pada masa itu pula berkembang jenis hiburan yang dapat dinikmati secara visual. Sirkus, “freak shows”, taman hiburan, dan pagelaran musik seringkali berkeliling dari kota ke kota sebagai tontonan yang terbilang murah. Produksi dan biaya perjalanan yang tinggi tidak seimbang secara ekonomis. Bioskop muncul sebagai suatu alternatif hiburan yang mudah, dengan cara yang lebih sederhana dalam menyajikan hiburan diantara masyarakat luas. Bioskop awalnya ditemukan. pada tahun 1890-an. Muncul pada masa revolusi industri sama halnya seperti masa kemunculan telepon, phonograph, dan automobil. Bioskop menjadi peranti teknologi yang menjadi basis industri yang lebih besar lagi.

Masa Pra-Gambar Bergerak/ Motion Pictures Awalnya ilmuwan menemukan fakta bahwa manusia sangat tertarik pada sesuatu yang bergerak, namun tidak dapat jelas melihat jika pergerakan itu lebih dari 16 gerakan per detik. Berdasarkan penemuan ini dibuatlah sebuah mainan bergerak semacam diorama yang memproyeksikan bayangan sebuah gambar. Lalu berkembanglah alat-alat lain yang menjadi prinsip dasar sebuah bioskop kelak. Antara lain:

- Pada 1832 Fisikawan Belgia Joseph Plateau dan profesor geometri Austria Simon Stampfer menemukan Phenakistoscope. Lalu setelah itu ditemukan juga Zoetrope pada 1833. Prinsip yang sama dari kedua mainan ini yang nantinya digunakan pada film.

- Satu hal yang sangat penting bagi penemuan bioskop adalah kemampuan fotografi yang bisa mencetak gambar pada bidang datar. Foto tersebut dicetak pada lempeng kaca oleh Claude Niépce di tahun 1826. Lalu diproyeksikan per lempeng untuk setiap gerakan. Proses ini memakan waktu beberapa menit setiap frame-nya.

- Henry Fox Talbot memperkenalkan negatif terbuat dari kertas.

- Selanjutnya George Eastman di tahun 1888, menemukan stil kamera yang mampu menghasilkan foto diatas rol kertas halus dan sensitif/sensitized. Kamera ini dinamai Kodak, fotografi sederhana hingga orang awam pun mampu menggunakan kamera ini.

- Tahun berikutnya Eastman menemukan rol film seluloid yang transparan untuk stil kamera.

- Pada tahap akhirnya dikembangkan pula mesin proyeksi intermiten yang mengkoordinasikan pergerakan rol selulosa dan mengatur cahaya.

- Pada tahun 1890-an berdasarkan kondisi teknis bioskop resmi ada.

- Pada 1891 Thomas Edison dan seorang asisten W. K. L. Dickson menemukan alat yang baik untuk menampilkan rol selulosa dengan menggabungkan Kinetograf dan Kinetoscope. Dickson memotong rol Eastman selebar 1 inchi (35 millimeters). Dickson pun melubangi rol disetiap kanan kiri, 4 lubang pada setiap framenya. Lubang ini dapat ditarik gigi pemutar pada kinestoscope.

- Lalu Edison mengembangkan Phonograf buatannya untuk dapat mendengarkan rekaman suara berbarengan dengan putaran rol selulosa. Mendengarkan phonograf ini menggunakan alat bantu earphone.



KONTRIBUSI ORANG-ORANG EROPA

Dua bersaudara yang paling berpengaruh dalam mengembangkan penayangan rol selulosa menggunakan proyektor adalah Germans Max dan Emil Skaldanowsky. 1895, 1 November, mereka mempertunjukkan film berdurasi 15 menit pada sebuah teater di Berlin. 1897, mereka tur keliling Eropa namun sayangnya tidak bisa mendirikan perusahaan produksi yang stabil. Lumiére bersaudara, Louis dan Auguste. Dua bersaudara ini medirikan perusahaan bernama Lumiére Fréres di Lyon Perancis, sebagai salah satu perusahaan terbesar dalam memproduksi plat fotografi. Mereka menemukan sistem proyektor yang membuat bioskop mampu meluas secara internasional. 1894, mereka mendesain kamera mungil yang elegan Cinématographe yang menggunakan 35mm rol selulosa, dan mekanika intermiten yang logika kerjanya seperti mesin jahit. 1894, Oktober, Kinestoscope buatan Edison menjalani pemutaran perdana filmnya di Inggris.

1895, 22 Maret, mereka berhasil menampilkan film “Workers Leaving The Factory” di gedung Société d’Encouragement á l’Industrie Nationale di Paris. 7

1896, 20 Februari mereka berhasil mendirikan cabang perusahaan mereka di London. R. W. Paul R. W. Paul membuat perlatan ekstra untuk alat Kinestoscope. Sayangnya alat tersebut tidak dipatenkan di luar AS, maka Paul bisa dengan bebas menduplikasi Kinestoscope. 1895 Maret, Paul dan partnernya Birt Acres memiliki kamera fungsional yang baik. namun partener ini terpecah. Paul berkonsentrasi mengembangkan kamera sementara Acres mengembangkan proyektor. 1896, 14 Januari, Acres berhasil mempertontonkan film pertamanya pada Royal Photographic Society salah satu judulnya adalah “Rough Sea at Dover” yang menjadi salah satu film yang terkenal untuk pertama kalinya. Paul terus mengembangkan kamera dan menciptakan proyektor. Alat Paul digunakan untuk menampilkan film-film Acres. Tidak seperti penemu lain, Paul menjual alat tersebut untuk banyak bioskop daripada meminjamkannya. Sutradara yang sangat berpengaruh pada masa itu adalah Georges Méliés. PERKEMBANGAN DI AMERIKA Woodville Latham dan anaknya Otway dan Gray 1894, mereka memulai mengembangkan kamera dan proyektor. 1895, 21 April, meeka mengenalkan satu film ke seorang wartawan dan berhasil membuka teater kecil di bulan Mei. Gambar yang dihasilkan redup dan dinilai kurang berhasil. 1912, Mereka berhasil menciptakan „Latham Loop‟ yang bisa membuat durasi film lebih panjang dan mengurangi tegangan klise. Alat ini hampir digunakan di banyak kamera dan proyektor hingga kini. C. Francis Jenkins dan partnernya Thomas Armat 1895, bulan Oktober di Atlanta, mereka memamerkan pemutaran film Kinestoscope dengan proyektor Phantoscope pertama ciptaan mereka. 1896, 23 April, Armat menggunakan proyektor ciptaannya untuk menampilkan film di Koster and Bial‟s Music Hall di New York. Proyektor ciptaannya tersebut dinamai Edison‟s Vitascope karena memang alat tersebut diproduksi dan diperbanyak oleh perusahaan Edison.
Pada awalnya Casler tidak mengembangkan rol selulosa berproyektor melainkan film “intip” yang hanya bisa dilihat secara individual. Akhir 1894, beliau mematenkan Mutoscope, alat yang menggunakan kartu-kartu yang digerakkan. Dengan partner lainnya dia mendirikan American Mutoscpe Company. 1896, konsumen film “intip” menurun. Maka Casler dan rekannya Dickson mulai mengembangkan rol selulosa berproyektor. 1897, perusahaan mereka sangat maju dan terkenal. Mereka dapat menghasilkan gambar yang sangat baik dan tajam. Alat mereka menggunakan klise rol selulosa berukuran 70mm yang dapat menghasilkan gambar lebih besar. 1897, penemuan dan pengembangan bioskop bisa dikatakan berhsail menuju puncaknya. Meskipun terdapat penemuan-penemuan yang berbeda di berbagai belahan dunia.


AWAL PERKEMBANGAN PEMBUATAN FILM DAN PERTUNJUKAN

- Industri film pada awalnya hanya menampilkan cerita nyata atau non fiksi.

- Berkembang film jenis Scenics, yang seringkali menampilkan pemandangan alam atau daerah tertentu secara panorama.

- Berkembang juga jenis pertunjukan berita.

- Recreated film, atau film yang dibuat setting di dalam studio. Setting tersebut dibuat mirip dengan aslinya.

- 1895, Film fiksi pertama dibuat oleh Lumiéres berjudul Arroseur arrosé dengan sedikit komedi.


Membuat Program yang Menarik 

- Dibuatnya banyak variasi jenis film dalam satu pertunjukan.

- Kebutuhan aakan varian ini jenis film fiksi berkembang bertahap.

- Mengambil sudut pandang/ angle yang berbeda.

- Mengkombinasikan berbagai gaya film dalam satu cerita film.

- Backsound musik yang dibuat menarik dan disesuaikan dengan tema.

- Pembuatan credit title atau intetitle semenarik mungkin sebagai penjelas tambahan dari cerita yang bisa dibaca.




Senin, 14 Mei 2012

Perjuangan Pencipta "Hymne Guru"

0 komentar


Terpujilah

Wahai engkau, Ibu Bapak Guru 

Namamu akan selalu hidup 

Dalam sanubariku… 

Begitulah sepenggal lagu hymne guru yang sering kita dengarkan dan nyanyikan waktu kita masih duduk dibangku sekolah. Setiap memperingati hari pendidikan Nasional atau hari guru kita sering menyanyikan lagu hymne guru, namun pada kenyataannya bila kita diberi pertanyaan siapakah yang menciptakan lagu hymne guru ? pasti dan banyak kenyataannya yang tidak tahu siapa kah yang menciptahan lagu tersebut. Ketidak tahuan ini merupakan suatu ironi. Bagaimana tidak saat jutaan anak Indonesia dengan bersemangat menyanyikan lagu kebangsaan para guru ini, nan jauh di sana, di sebuah rumah yang sederhana di Madiun, Sartono sang pencipta lagu ini justru hidup dalam ketidak jelasan. Sejak menciptakan lagu hymne guru pada tahun 1980 sampai sekarang alih-alih mendapatkan royalti atau santunan tetap dari pemerintah pun tidak didapatkan bahkan sekedar status “guru tetap” pun gagal ia dapaatkan. Hingga ia berhenti mengajar pada tahun 2000. 

Berhenti menjadi guru honorer menjadikan beliau tidak memilii pekerjaan lagi. Kesibukan yang mungkin bisa dianggap sebagai pekerjaannya adalah mengisi les musik dan membuat lagu pesanan atau terkadang memainkan lagu-lagu keroncong di berbagai perhelatan. Semua pekerjaan ini tentu saja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebab, penghasilan dari kerja-kerja tersebut jauh dari cukup. “untung istri saya masih mengajar sebagai guru tetap di SD klegen 5 Madiun” ujar lelaki 75 tahun itu. 

Kendati hidup dalam kondisi serba kekurangan, Sartono tetap bersyukur. Bahkan, lelaki sepuh yang terlihat masih bugar itu, menyatakan tidak memiliki harapan apapun, termasuk santunan pemerintah kepadanya. “Saya tak mau meminta-minta. Lebih baik tidak menerima uang sepeser 'pun, namun harga diri dan kehormatan saya terjaga,” katanya dalam nada pelan. Sartono memang tidak begitu suka membahas soal imbalan dan ketidakacuhan pemerintah terhadap dirinya. Padahal, jika mengingat jasanya, lebih dari penghargaan materi pun sebenarnya wajar ia dapatkan. Sering saya dengar bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawan, namun pada kenyataannya pahlawan-pahlawan yang berjasa bagi bangsa Indonesia ini sering terlupakan atau memang sengaja dilupakan padahal merekah lah yang membuat bangsa ini menjadi hebat dan kuat. 

Kini, di usia senjanya, tak banyak yang bisa dilakukan Sartono. Untuk mengisi waktu, setiap pagi selepas subuh, kegiatan pertamanya adalah jalan-jalan kecil. Ditemani nyayian burung-burung kecil yang mulai keluar dari sarangnya, sang guru tua berjalan santai mengelilingi Stadion Wilis di Kota Madiun. “Ya, namanya orang sudah tua, mau apa lagi?,” ujarnya sambil terkekeh riang. Beberapa butir keringat terlihat memenuhi kulit keriput di lehernya. Hingga kini, mungkin jutaan anak di Indonesia tidak tahu siapa pencipta lagu Hymne Guru. Dan, bisa jadi Sartono pun, tak peduli namanya diingat atau tidak oleh mereka. Ironi memang, namun ini lah yang terjadi di tanah air kita. Lalu, apa kita berharap pendidikan di negeri ini maju, di tengah ironi seperti ini?

Sumber: Mizan.com

Minggu, 06 Mei 2012

Perkembangan TV Digital di Indonesia

0 komentar
TV Digital

Pada jaman yang semakin moderen ini tuntutan dalam mengikuti kemajuan teknologi merupkan suatau keharusan bagi kita mendapatkan manfaat dan kemudahan dalam teknologi tersebut. Bukan itu saja perkembangan teknologi pada jaman sekarang banyak membantuk dan mempermudah pekerjaan manusia sehari-hari. Salah satunya televisi digital merupakan teknologi dalam televisi yang memberikan kualitas yang lebih unggul dibandingkan televisi analog.

Televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase atau frekuensi dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog. Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog NTSC (national Television System Committee), PAL, dan SECAM. Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap gangguan (noise) dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error correction code ).

Televisi digital atau DTV adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Modulasi digital merupakan proses penumpangan sinyal digital (bit stream) ke dalam sinyal carrier. Televisi digital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran TV digital, perkembangan dari sistem siaran analog ke digital yang mengubah informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit data seperti komputer. TV Digital bukan berarti pesawat televisinya yang digital, namun lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah sinyal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting).

Kualitas TV Digital

TV Digital memiliki hasil siaran dengan kualitas gambar dan warna yang jauh lebih baik dari yang dihasilkan televisi analog. Sistem televisi digital menghasilkan pengiriman gambar yang jernih dan stabil meski alat penerima siaran berada dalam kondisi bergerak dengan kecepatan tinggi. TV Digital memiliki kualitas siaran berakurasi dan resolusi tinggi. Teknologi digital memerlukan kanal siaran dengan laju sangat tinggi mencapai Mbps untuk pengiriman informasi berkualitas tinggi.

Manfaat penyiaran TV digital

  •  Teknologi siaran digital menawarkan integrasi dengan layanan interaktif dimana TV Digital memiliki layanan komunikasi dua arah layaknya internet. 
  •  TV Digital digunakan untuk siaran interaktif. Masyarakat dapat membandingkan keunggulan kualitas siaran digital dengan siaran analog serta dapat berinteraksi dengan TV Digital. 
  •  TV Digital memungkinkan penyiaran saluran dan layanan yang lebih banyak daripada televisi analog. Penyelenggara siaran dapat menyiarkan program mereka secara digital dan memberi kesempatan terhadap peluang bisnis pertelevisian dengan konten yang lebih kreatif, menarik, dan bervariasi. 
  •  Siaran televisi digital terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi tidak bergerak maupun sistem penerimaan televisi bergerak. Kebutuhan daya pancar televisi digital yang lebih kecil menyebabkan siaran dapat diterima dengan baik meski alat penerima siaran bergerak dalam kecepatan tinggi seperti di dalam mobil dan kereta. 

Keunggulan frekuensi TV digital.

TV Digital saat penyiaran menggunakan sistem digital memiliki ketahanan terhadap gangguan dan mudah untuk diperbaiki kode digitalnya melalui kode koreksi error. Akibatnya adalah kualitas gambar dan suara yang jauh lebih akurat dan beresolusi tinggi dibandingkan siaran televisi analog. Selain itu siaran televisi digital dapat menggunakan daya yang rendah.

Transmisi pada TV Digital menggunakan lebar pita yang lebih efisien sehingga saluran dapat dipadatkan. Sistem penyiaran TV Digital menggunakan OFDM yang bersifat kuat dalam lalu lintas yang padat. Transisi dari teknologi analog menuju teknologi digital memiliki konsekuensi berupa tersedianya saluran siaran televisi yang lebih banyak. Siaran berteknologi digital yang tidak memungkinkan adanya keterbatasan frekuensi menghasilkan saluran-saluran televisi baru. Penyelenggara televisi digital berperan sebagai operator penyelenggara jaringan televisi digital sementara program siaran disediakan oleh operator lain. Bentuk penyelenggaraan sistem penyiaran televisi digital mengalami perubahan dari segi pemanfaatan kanal ataupun teknologi jasa pelayanannya. Terjadi efisiensi penggunaan kanal frekuensi berupa pemakaian satu kanal frekuensi untuk 4 hingga 6 program.

Siaran televisi digital terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi analog dan sistem penerimaan televisi bergerak. TV Digital memiliki fungsi interaktif dimana pengguna dapat menggunakannya seperti internet. Sistem siaran televisi digital DVB mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan jalur kembali antara IRD dan operator melalui modul Sistem Manajemen Subscriber. Jalur tersebut memerlukan modem,jaringan telepon atau jalur kembali televisi kabel, maupun satelit untuk mengirimkan sinyal balik kepada pengguna seperti pada aplikasi penghitungan suara melalui televisi. Ada beberapa spesifikasi yang telah dikembangkan, antara lain melalui jaringan telepon tetap (PSTN) dan jaringan berlayanan digital terintegrasi (ISDN). Selain itu juga dikembangkan solusi komprehensif untuk interaksi melaluijaringan CATV, HFC,sistem terestrial, SMATV, LDMS, VSAT, DECT, dan GSM.


Perbedaan antara TV Digital dan Analog.

Perbedaan yang paling mendasar antara sistem penyiaran televisi analog dan digital terletak pada penerimaan gambar lewat pemancar. Pada sistem analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi, sinyal akan melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Sedangkan pada sistem digital, siaran gambar yang jernih akan dapat dinikmati sampai pada titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi. Perbedaan TV Digital dan TV Analog hanyalah perbedaan pada sistim tranmisi pancarannya, kebanyakan TV di Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara memodulasikannya langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim digital, data gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di pancarkan. Orang awam pun dapat membedakan dengan mudah, jika TV analog signalnya lemah (semisal problem pada antena) maka gambar yang diterima akan banyak ‘semut’ tetapi jika TV Digital yang terjadi adalah bukan ‘semut’ melainkan gambar yang lengket seperti kalau kita menonton VCD yang rusak. Kualitas Digital jadi lebih bagus, karena dengan Format digital banyak hal dipermudah.


Dampak Penyiaran TV Digital

Dampak Positif
Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain:
• Kualitas gambar yang lebih halus dan tajam,
• Pengurangan terhadap efek noise,
• Kemudahan untuk recovery pada penerima dengan error correction code, serta
• mengurangi efek dopler jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun kereta api).
• Selain itu sinyal digital dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog.

Dampak Negatif

Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti:
• Regulasi bidang penyiaran yang harus diperbaiki,
• Standardisasi yang harus segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan,
• Industri pendukung yang harus segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya.
• Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.

Televisi di Indonesia telah menjadi alat penting baik untuk hiburan maupun untuk mendapatkan informasi. Baik televisi digital maupun analog dalam penyiarannya memiliki kesamaan yaitu memiliki dampak psikologis terhadap penontonnya. Dengan frekuensi menonton yang tinggi dan kualitas tontonan yang rendah akan berdampak buruk baik pada orang dewasa maupun pada pada anak – anak.

Perkembangan televisi digital sendiri dilatarbelakangi oleh perubahan lingkungan eksternal, yaitu pasar TV analog yang sudah jenuh dan adanya kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel. Selain itu juga adanya perkembangan teknologi, yaitu teknologi pemrosesan sinyal digital, teknologi transmisi digital, teknologi semikonduktor serta teknologi peralatan yang beresolusi tingggi. Untuk penerapan sistem siaran televisi digital di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan keputusan yaitu Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 27/P/M.Kominfo/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital dimana teknologi digital yang akan digunakan adalah sistem siaran Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T). Siaran DVB-T pun diklaim mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan siaran TV analog. Diantaranya, tahan terhadap efek interferensi, kualitas gambar yang lebih baik, tidak ada noise (bintik-bintik, semut), bayangan atau 'ghost', interaktif, EPG (Electronic Program Guide) yang menampilkan jadwal acara sampai beberapa hari ke depan dan penerimaan yang lebih jelas walaupun pada saat bergerak (mobile).

Kelebihan lainnya adalah efisiensi di banyak hal, antara lain pada spektrum (efisiensi bandwidth), efisiensi dalam network transmission, transmission power dan power konsumsi. Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, sistem siaran DVB-T sangat tepat untuk diimplementasikan di Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar dan beraneka ragam budayanya.Pelaksanaan migrasi dari siaran analog ke sistem digital pada umumnya dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap transisi dan tahap cut-off. Tahap transisi yaitu menggunakan siaran analog dan digital secara bersamaan sebelum mengganti seluruh perangkat ke sistem digital. Pada tahap ini agar TV analog dapat menerima sinyal digital dengan kualitas yang baik maka diperlukan suatu perangkat tambahan yaitu Set Top Box.

Produsen TV digital

Kondisi di atas tentunya membuat produsen elektronik harus bersiap menyongsong suatu era baru. Salah satu produsen yang mulai bersiap menghadapi penerapan sistem siaran televisi digital, yang menurut rencana akan diujicoba Maret 2009 itu adalah Polytron. Polytron telah memproduksi rangkaian produk Set Top Box dan TV Digital. Set Top Box adalah sebuah perangkat tambahan untuk menerima sinyal digital yang dipancarkan oleh sistem DVB-T yang kemudian diubah ke dalam sinyal analog agar dapat ditampilkan pada monitor TV analog. Sedangkan TV digital adalah sebuah televisi yang telah menyisipkan teknologi digital ke dalamnya untuk menerima siaran televisi DVB-T tanpa perlu menggunakan perangkat tambahan lagi. Dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (27/2/2009), Set Top Box Polytron yang diberi nama Polytron DVB (Digital Video Broadcast) ini dipasarkan mulai bulan Februari 2009 di kawasan Jabotabek dengan harga Rp 425.000. Selain itu PT Hartono Istana Teknologi, selaku pemegang merek Polytron, juga telah memproduksi televisi digital Polytron yang sudah mengintegrasikan sistem DVB-T di dalam pesawat tersebut, yaitu pada TV Digital Polytron, yang sudah bisa langsung menangkap siaran secara digital.

Perkembangan televisi indonesia
Industri televisi Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1962 dimulai dengan pengiriman teleks dari Presiden Soekarno yang berada di Wina kepada Menteri Penerangan Maladi pada 23 Oktober 1961. Presiden Soekarno memerintah Maladi untuk segera mempersiapkan proyek televisi. TVRI adalah stasiun televisi pertama yang berdiri di Indonesia. TVRI melakukan siaran percobaan pada 17 Agustus 1962 dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. TVRI mengudara untuk pertama kali tanggal 24 Agustus 1962 dalam acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sejak saat itu dirintis pembangunan stasiun televisi daerah pada akhir tahun 1964. Kemudian dibentuk stasiun-stasiun produksi keliling (SPK) tahun 1977 sebagai bagian produksi dan merekam paket acara untuk dikirim dan disiarkan melalui stasiun pusat TVRI Jakarta di beberapa ibu kota provinsi. Konsep SPK diadopsi oleh beberapa stasiun televisi swasta berjaringan tahun 1990-an. Televisi swasta menggunakan kanal frekuensi ultra tinggi (UHF) dengan lebar pita untuk satu program siaran sebesar 8 MHz.

Migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital menjadi tuntutan teknologi secara internasional. Aplikasi teknologi digital pada sistem penyiaran televisi mulai dikembangkan di pertengahan tahun 1990-an. Uji coba penyiaran televisi digital dilakukan pada tahun 2000 dengan pengoperasian sistem digital dilakukan bersamaan dengan siaran analog sebagai masa transisi.

Tahun 2006, beberapa pelaku bisnis pertelevisian Indonesia melakukan uji coba siaran televisi digital. PT Super Save Elektronik melakukan uji coba siaran digital bulan April-Mei 2006 di saluran 27 UHF dengan format DMB-T (Cina) sementara TVRI/RCTI melakukan uji coba siaran digital bulan Juli-Oktober 2006 di saluran 34 UHF dengan format DVB-T. Peraturan Menteri Komunikasi dan InformatikaNomor:07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia menetapkan DVB-T ditetapkan sebagai standar penyiaran televisi digital teresterial tidak bergerak. Stasiun-stasiun televisi swasta memanfaatkan teknologi digital pada sistem penyiaran terutama pada sistem perangkat studio untuk memproduksi, mengedit, merekam, dan menyimpan program. Sementara itu penyelenggara televisi digital memanfaatkan spektrum dalam jumlah besar, dimana menggunakan lebih dari satu kanal transmisi. Penyelenggara berperan sebagai operator jaringan dengan mentransmisikan program stasiun televisi lain secara terestrial menjadi satu paket layanan. Pengiriman sinyal gambar, suara, dan data oleh penyelenggara televisi digital memakai sistem transmisi digital dengan satelit atau yang biasa disebut sebagai siaran TV berlangganan.

TVRI telah melakukan peluncuran siaran televisi digital pertama kali di Indonesia pada 13 Agustus 2008. Pelaksanaan dalam skala yang lebih luas dan melibatkan televisi swasta dapat dilakukan di bulan Maret 2009 dan dipancarkan dari salah satu menara pemancar televisi di Joglo, Jakarta Barat. Sistem penyiaran digital di Indonesia mengadopsi sistem penyiaran video digital standar internasional (DVB) yang dikompresi memakai MPEG-2 dan dipancarkan secara terestrial (DVB-T) pada kanal UHF (di Jakarta di kanal 40, 42, 44 dan 46 UHF) serta berkonsep gratis untuk mengudara. Penerimaan sinyal digital mengharuskan pengguna di rumah untuk menambah kotak konverter hingga pada nantinya berlangsung produksi massal TV digital yang bisa menangkap siaran DVB-T tanpa perlu tambahan kotak konverter. Perangkat penerima yang akan mendukung uji coba siaran digital di Indonesia adalah Polytron dengan produk TV digital dan kotak konverter. Polytron akan mengeluarkan TV digital berukuran 21 inchi dan 29 inchi dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat.



Tabel Perbedaan Televisi Digital dengan Analog
No
TV Digital
TV Analog
1.
Televisi digital sudah pasti resulusinya tinggi, kualitas dari gambarnya yang bening dan cerah inilah yang membuat televisi digital mahal.
Analog ini ada 2 jenis televisinya, ada yang resolusinya tinggi ada yang resolusinya rendah, untuk yang resolusinya tinggi harganya lebih mahal.
2.
Televisi digital dibuat tanpa tabung, sehingga bentuknya yang datar dan tidak memakan tempat.
Televisi analog masih menggunakan tabung dibelakang monitor, sehingga bentuknya besar dan memakan tempat.
3.
Menggunakan transmisi digital, satelit dan kabel.
Penangkapan penyiaran masih bisa menggunakan antena lokal atau antena dalam
4.
Televisi digital ini berlangganan.
Tidak perlu berlangganan.
5.
Penerimaan gambar lebih jelas pada saat bergerak.
Penerimaan gambar akan goyang pada saat bergerak.
 Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_digital

http://inet.detik.com/read/2009/02/27/171851/1091755/398/tv-analog-kian-jenuh-tv-digital-mulai-digandrungi

http://thekingfrost.blogspot.com/2011/12/perkembangan-televisi-digital-di.html

Jumat, 04 Mei 2012

Perkembangan Teknologi TV Digital di Indonesia

1 komentar
Saat ini perkembangan teknologi di Indonesia dan di dunia pada umumnya mampu berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan teknologi ini merambat pada segala bidang kehidupan termasuk dalam hal komunikasi. Sistem komunikasi sendiri merupakan suatu konsep dimana dalam komunikasi tersebut terdapat  makna dari suatu informasi, dan yang memiliki nilai dan tujuan untuk mencapai sesuatau yang diinginkan. Dalam sebuah sistem komunikasi tersebut mengandung sebuah informasi yang diinginkan oleh komunikan, informasi tersebut berbeda-beda sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Hingga kini informasi dijadikan sebuah  bisnis yang cukup menjanjikan oleh para business man maupun para penguasa guna untuk bermain politik di dalamnya. Salah satu cara penyampain informasi tersebut menggunakan televisi, karena televise merupakan suatau teknologi yang hampir setiap rumah memiliki sebuah teknolgi ini.
Televisi memiliki sebuah program-program acara yang mengundang masyarakat untuk lebih tertarik menonton program acara tersebut. Apa yang di sampaikan oleh TV memiliki niali bisnsi yang bergantung pada rating acara itu sendiri, melalu televise pula banyak para biro iklan menggunakan media televise untuk mengenalkan suatu produk baru kepada masyarakat luas. Oleh sebab itu, informasi pada saat sekarang ini bisa saja menjadi kekuatan bagi seseorang. Dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi, seseorang bisa memanfaatkan informasi tersebut menjadi kekuatannya. Maksudnya, kemampuan itu bisa digunakan untuk kepentingan ekonomi maupun politik.
Berdasarkan hasil survey dinyatakan bahwa saat ini penggunaan perangkat TV di Indonesia cukup tinggi dibandingkan media informasi lain, yaitu 55% dari seluruh jumlah keluarga di Indonesia itu memiliki TV atau terdapat 40 juta pemirsa TV, maka dapat dinyatakan bahwa media TV merupakan sarana yang paling tepat untuk digunakan sebagai distribusi dan diseminasi informasi di Indonesia.
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna.  Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”
Saat ini sudah memunculkan teknologi terbaru dari teknologi sebelumnya yaitu televisi analog yang disebut televisi digital. Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV)atau penyiaran digital adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio dan data ke pesawat televisi. TV Digital bukan berarti pesawat televisinya yang digital, namun lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah sinyal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting). Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. TV digital memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan di televise analog. TV Digital merupakan sebuah perkembangan teknologi di bidang elektronik. TV digital memiliki kualitas gambar yang bagus, spektrum komunikasi lebih hemat.
Sedangkan televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog. Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog NTSC (national Television System Committee), PAL, dan SECAM. Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap gangguan (noise) dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error correction code ).
·         Perbedaan TV Analog dengan TV Digital

Kualitas gambar dan suara
Siaran televisi digital terestrial menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mampu mengatasi efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo atau gaung yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan).
Penyiaran televisi digital menawarkan kualitas gambar yang sama dengan kualitas DVD, bahkan stasiun-stasiun televisi dapat memancarkan programnya dalam format 16:9 (layar lebar) dengan standar Standard Definition (SD) maupun High Definition (HD). Kualitas suara pun mampu mencapai kualitas CD Stereo, bahkan stasiun televisi dapat memancarkan suara dengan Surround Sound (Dolby DigitalTM).

Tahan perubahan lingkungan
Siaran televisi digital terestrial memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile TV), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.

Tahan terhadap efek interferensi
Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman atau transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu.

Efisiensi spektrum/kanal
Teknologi siaran televisi digital lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum dibanding siaran televisi analog. Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk siaran televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6, artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital untuk lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya. Dengan keunggulan ini, keterbatasan jumlah kanal dalam spektrum frekuensi siaran yang menjadi penghambat perkembangan industri pertelevisian di era analog dapat diatasi dan memungkinkan munculnya stasiun-stasiun televisi baru yang lebih banyak dengan program yang lebih bervariasi.

Perbedaan yang paling mendasar antara sistem penyiaran televisi analog dan digital terletak pada penerimaan gambar lewat pemancar. Pada sistem analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi, sinyal akan melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Sedangkan pada sistem digital, siaran gambar yang jernih akan dapat dinikmati sampai pada titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi. Selain  itu juga perbedaan antar Tv Analog dan Tv Digital pada sistim tranmisi pancarannya, kebanyakan TV di Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara memodulasikannya langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim digital, data gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di pancarkan.
Orang awam pun dapat membedakan dengan mudah, jika TV analog signalnya lemah (semisal problem pada antena) maka gambar yang diterima akan banyak ‘semut’ tetapi jika TV Digital yang terjadi adalah bukan ‘semut’ melainkan gambar yang lengket seperti kalau kita menonton VCD yang rusak. Kualitas Digital jadi lebih bagus, karena dengan Format digital banyak hal dipermudah. Siaran TV Satelit dulu memakai Analog. Sekarang sudah banyak yang digital. Tidak semua TV satelit memakai sistim Digital. Di beberapa satelit Arab banyak yang memakai mode analog. Sebenarnya untuk menerima siaran digital untuk TV yang analog tidaklah terlalu mahal. Receiver ini hanya tinggal pasang antena dan kemudian AV nya colokkan ke TV. Untuk siaran TV satelit namanya DVB-S (Digital Video Broadcasting – Satelite). Sedangkan untuk di daratan namanya DVB-T(Digital Video Broadcasting – Terresterial)
Jika anda melihat Indosiar atau Metro TV atau RCTI melalui satelit anda bisa melihat siaran TV Digital. Tidak Harus plasma, Tidak harus HD, karena stasiun TV Nasional masih memakai SDTV meskipun mereka memancarkan secara digital lewat satelit Dengan memakai TV 14 inchi yang paling murahpun anda bisa menonton TV digital. Sedangkan jika anda membeli TV LCD, hampir semua bisa menerima signal Digital tanpa alat tambahan karena sudah dilengkapi dengan receiver digital.
Dengan keterbatasan alokasi frekuensi yang digunakan untuk penyiaran media TV, tentunya akan mengakibatkan jumlah informasi yang diperoleh masyarakat melalui siaran TV menjadi terbatas dan kurang berimbang. Hal inilah yang dijadikan pemerintah untuk untuk melakukan migrasi dari siaran TV Analog ke siaran TV Digital.
·         Dampak Penyiaran TV Digital
Dampak Positif
Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain:

1.      Kualitas gambar yang lebih halus dan tajam,
2.      Pengurangan terhadap efek noise,
3.      Kemudahan untuk recovery pada penerima dengan error correction code, serta
4.      Mengurangi efek dopler jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun kereta api).
5.      Selain itu sinyal digital dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog.
Dampak Negatif
Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti:

1.      Regulasi bidang penyiaran yang harus diperbaiki,
2.      Standardisasi yang harus segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan,
3.      Industri pendukung yang harus segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya.
4.      Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
·         Prospek masa depan penyiaran televisi dikaitkan dengan adanya digitalisasi system siaran televisi
Adanya kemajuan teknologi di Indonesia terutama dalam bidang komunikasi kita patut bangga pada hal tersebut. Karena munculnya televise digital saat ini sungguh akan sangat membantu kita dalam mempermudah mendapat atau membagikan informasi secara lebih cepat dan baik. Namun, masa transisi dari Tv analog menuju Tv digital membutuhkan waktu dan poenyesuaian yang cukup terutama bagi para industry televisi yang harus mengganti perangkat analognya menjadi digital pula, perangkat-perangkat tersebut tidaklah murah harganya maka dari itu dibutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan transisi secara total menuju Tv digital.
Industri televisi yang masih menggunakan analog akan merugi dikarenakan  siaran yang dilakukan mengalami pengurangan jumlah peminat, karena dengan menggunakan televisi digital penonton bisa memilih program acara yang ia inginkan sendiri selain itu pula program-program acara yang dihadirkan juga beraneka ragam dan sangat menarik. Karena keunggulannya tersebut tv digital mampu mengalahkan pasar tv analog. Namun setiap industri televisi Indonesia di tuntut untuk mengganti transmisi pemancar meraka yang semula analog menjadi digital. Perangkat pemancar digital tersebut tidak murah harganya maka dari itu membutuhkan modal yang cukup besar untuk mengganti alat pemancar tersebut, itu juga merupakan hal yang paling utama untuk dipertimbangkan bagi industri televise Indonesia.
Namun bagi masyarakat yang beluum mampu membeli tv digital ada cara untuk mendapatkan siaran tv digital walau masih menggunakan tv analog. Agar dapat menerima penyiaran digital, diperlukan pesawat TV digital. Jika ingin menggunakan pesawat televisi analog, penyiaran digital dapat ditangkap dengan alat tambahan yang disebut kotak konverter (Set Top Box). Ketika menggunakan pesawat televisi analog, sinyal penyiaran digital akan dirubah oleh kotak konverter menjadi sinyal analog. Dengan demikian pengguna pesawat televisi analog tetap dapat menikmati siaran televisi digital. Pengguna televisi analog tetap dapat menggunakan siaran analog dan secara perlahan-lahan beralih ke teknologi siaran digital tanpa terputus layanan siaran yang digunakan selama ini.
Proses transisi yang berjalan secara perlahan dapat meminimalkan risiko kerugian terutama yang dihadapi oleh operator televisi dan masyarakat. Resiko tersebut antara lain berupa informasi mengenai program siaran dan perangkat tambahan yang harus dipasang tersebut. Sebelum masyarakat mampu mengganti televisi analognya menjadi televisi digital, masyarakat menerima siaran analog dari pemancar televisi yang menyiarkan siaran televisi digital.
Bagi operator televisi, risiko kerugian berasal dari biaya membangun infrastruktur televisi digital terestrial yang relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan membangun infrastruktur televisi analog. Operator televisi dapat memanfaatkan infrastruktur penyiaran yang telah dibangunnya selama ini seperti studio, bangunan, sumber daya manusia, dan lain sebagainya apabila operator televisi dapat menerapkan pola kerja dengan calon penyelenggara TV digital. Penerapan pola kerja dengan calon penyelenggara digital pada akhirnya menyebabkan operator televisi tidak dihadapkan pada risiko yang berlebihan. Di kemudian hari, penyelenggara penyiaran televisi digital dapat dibedakan ke dalam dua posisi yaitu menjadi penyedia jaringan, serta penyedia isi.

·         Dampak yang timbul akibat adanya siaran digital di Indonesia
Dampak yang timbul dengan adanya siaran digital di Indonesia sangatlah banyak dilihat dari keunggulan televisi digital tersebut. Seperti dampak dalam bidang ekonomi, politik, psikologis masyarakat dan dampak bagi pendidikan di Indonesia. Semakin beraneka ragamnya program acara yang disajikan oleh pihak industri televise membuat masyarakat mampu lebih berminat untuk menonton televisi.
Dampak langsung hadirnya TV digital bagi masyarakat adalah bertambahnya pilihan program atau siaran televisi. Saat ini saja, pemirsa di wilayah Surabaya dan sekitarnya bisa menangkap 21 kanal televisi analog, yaitu TVRI ditambah 10 televisi swasta nasional, yaitu RCTI, SCTV, Indosiar, ANTN, TPI/MNC, TV One, Metro TV, Trans TV, Trans7, dan Global TV. Ditambah lagi 10 televisi lokal, yaitu JTV, SBO, TV Anak, Arek TV, BCTV, BBS TV, TV9, MHTV dan MNTV. Belum lagi jika pemerintah nanti membuka peluang pihak swasta bermain di televisi digital.
Dari dampak langsung itu saja kita mampu memprediksikan secara umum dampak-dampak apa yang akan terjadi apabila tv digital berkembang ddengan baik di Indonesia. Dampak baiknya dapat kita ketahui semakin banyak siaran tv yang di dapatkan secara otomatis pula semakin banyak pula informasi yang mampu kita dapatkan. Namun, tidak akan hanya dampak positif saja dampak negatif siaran tv yang akan memepengaruhi masyarakat pun akan menjadi sangat besar pula. Secara psikologis orang yang tertarik pada sesuatu akan memiliki suatu intensitas tinggi untuk mencari dan mengetahui dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap suatu ketertarikannya tersebut. Sama halnya pada televisi, apabila banyak orang yang terlalu tertarik pada program-program acara yang ada di televise maka ia akan menjadi malas dan merasa nyaman dengan televise.
Dampak negatif apabila mampu mempengaruhi remaja-remaja atau anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah akan menjadikannya malas untuk belajar sehingga mampu menurunkan kualitas mutu pendidikan yang ada. Bagi orang tua sendiri yang sudah terhipnotis dengan acara-acara televise yang menarik tersebut akan malas dan jarang bergerak ia nyaman dengan televisinya dan itu sungguh tidak baik bagi kesehatan para penonton. Karena dengan kita kurang bergerak mampu berdampak pada kesehatan seperti penyakit kolesterol, ginjal, dll. Namun apabila pemerntah dan masyarakat mampu mengerti damapak yang akan terjadi bagi perkembangan Indonesia pasti akan mengerti pola yang akan diterapkan dalm menerima teknologi baru yang hadir.
Munculnya TVRI Digital diharapkan bisa menjadi penyeimbang dominasi televisi swasta nasional yang selalu disetir rating dan selera pasar. TVRI diharapkan bisa meraih kembali kepercayaan publik dengan menyuguhkan program-program berkualitas yang dibutuhkan publik. Publik butuh alternatif karena mereka sebenarnya jenuh dengan tayangan televisi swasta yang banyak menonjolkan kekerasan, mistik, seksualitas dan gaya hidup hedonis.
Siaran digital juga membuat tayangan gambar serta suara lebih jernih dan jelas meski alat penerima dalam keadaan bergerak. Layar kaca kita juga bisa diselipi berbagai fitur data dan informasi, seperti ramalan cuaca, info bursa saham, serta tampilan seluruh jadwal acara berikut sinopsis program tertentu dalam Electronics Program Guide (EPG).
Digitalisasi otomatis bisa menghemat penggunaan frekuensi sehingga memungkinkan dibukanya peluang pendirian stasiun televisi baru dengan konten yang lebih kreatif, menarik, dan bervariasi. Sejak 2008, pemerintah telah mengeluarkan moratorium atau penghentian pengajuan izin baru televisi. Ini karena rasio ketersediaan kanal dan pengajuan izin televisi sangat tidak berimbang. Banyak televisi nasional maupun lokal yang tak bisa mendapatkan izin frekuensi di wilayah layanan tertentu karena keterbatasan kanal.
Yang mengkhawatirkan, hadirnya televisi digital tentu akan memperkeras persaingan. Kompetisi antar televisi analog yang di berbagai kota besar jumlahnya mencapai 15-20-an stasiun itu saja sudah berat dalam merebut kue iklan. Apalagi ditambah pemain baru di ranah digital.
Belum lagi, sesuai Permenkominfo No 39 Tahun 2009 tentang Kerangka Dasar Penyelenggaraan Penyiaran Televisi Digital, pemegang izin penyiaran analog sudah harus mengembalikan frekuensinya paling lambat akhir Desember 2017. Padahal, tidak ada jaminan mereka mendapat kanal frekuensi digital. Bagi televisi yang sudah untung tidak masalah. Persoalannya, masih banyak televisi merugi, terutama stasiun-stasiun televisi lokal, akibat tak berjalannya Sistem Siaran Jaringan (SSJ).
Saat ini populasi pesawat televisi tidak kurang dari 40 juta unit, dengan pemirsa lebih dari 200 juta orang, jauh lebih banyak dibandingkan dengan komputer, misalnya, yang ada hanya sekitar 5,9 juta unit. Terlihat bahwa penggemar televisi begitu banyak di Indonesia .Kemunculan televisi digital di indonesia harus dipikirkan dampak dan konsekuensinya karena selama ini masih banyak masyarakat yang menggunakan dan terbiasa dengan televisi-televisi analog. Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan peralihan ke TV digital ini adalah:
·         Perlunya pesawat TV baru atau paling tidak kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa dibilang cukup mahal. Hal tersebut akan menimbulkan dampak yang besar, mengingat hampir seluruh komponen pertelevisian di Indonesia masih menggunakan komponen analog, sehingga kemajuan tekhnologi televisi digital ini dapat mematikan usaha-usaha kecil yang selama ini telah ada. Karenanya hal ini mewajibkan Pemerintah untuk mensosialisasikan lebih rinci kepada masyarakat.
·         Mahalnya perangkat transmisi dan operasional broadcast berbasis tehnologi digital merupakan persoalan tersendiri bagi kemampuan industri televisi di Indonesia. Bagaimanapun untuk bisa menyiarkan program secara digital, perangkat pemancar memang harus diganti dengan perangkat baru yang memiliki sistem modulasi frekuensi secara digital. Untuk mem-back up operasional sehari-hari saja dengan tingkat persaingan antar sesama radio dan televisi swasta nasional saja sudah sangat berat, apalagi untuk harus mengalokasikan sekian persen pemasukan iklan untuk digunakan bagi digitalisasi. Selain itu, dalam masa transisi, stasiun televisi harus siaran multicast atau operasional di dua saluran secara paralel: analog dan digital, karena tetap memberi kesempatan pada masyarakat yang belum dapat membeli televisi digital.
·         Sistem pemrosesan sinyalnya. Pada sistem digital, karena diperlukan tambahan proses misalnya Fast Fourier Transform (FFT), Viterbi decoding dan equalization di penerima, maka TV Digital ini akan sedikit terlambat beberapa detik dibandingkan TV Analog. Ketika TV analog sudah menampilkan gambar baru, maka TV Digital masih beberapa detik menampilkan gambar sebelumnya.
·         Bagaimana soal akses pada jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji dalam hal ini. Dan akses pada spektrum frekuensi
·         Bagaimanapun pada era penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran (broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT). Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu media transmisi. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuka
·         Terjadinya migrasi dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital, yang memiliki konsekuensi tersedianya saluran siaran yang lebih banyak, akan membuka peluang lebih luas bagi para pelaku penyiaran dalam menjalankan fungsinya dan dapat memberikan peluang lebih banyak bagi masyarakat luas untuk terlibat dalam industri penyiaran ini.
·         Momentum penyiaran digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film, hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.




Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi



http://vranandaajahh.blogspot.com/2009/05/pengertian-tv-digital.html